Para ahli gizi menyatakan bahwa teori yang membenarkan larangan susu atau produk susu dalam diet tidaklah memiliki dasar ilmiah. Produk susu sebenarnya mengandung berbagai vitamin penting karena produk susu (seperti yoghurt dan keju) merupakan sumber terbaik yang mudah menyerap kalsium.
Berikut ini beberapa fakta manfaat produk susu bagi kesehatan:
Kesehatan tulang
Pengeroposan tulang atau osteoporosis adalah suatu kondisi dimana tulang menjadi rapuh dan bahkan berakibat patah tulang. Masalah tersebut disebabkan oleh kekurangan kalsium. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa kalsium memang penting bagi pertumbuhan tulang yang kuat pada anak-anak dan menjaga kekuatan tulang pada orang dewasa. Susu dan produk susu merupakan sumber utama kalsium.
Para ahli gizi menyarankan agar kita mengonsumsi kalsium dengan jumlah yang tepat. Anak-anak dan orang dewasa sebaiknya mengonsumsi dua atau tiga porsi produk susu setiap hari. Anak laki-laki berumur 11 hingga 18 tahun sebaiknya mengonsumsi tiga sampai empat porsi. Satu porsi setara dengan 200 ml gelas susu.
Penyakit jantung, kanker dan stroke
Sebuah penelitian yang dilakukan selama 25 tahun oleh Bristol University membuktikan bahwa susu dapat melindungi kita dari penyakit jantung, kanker, dan stroke. Penelitian yang melibatkan 5.700 pria Skotlandia yang berumur 35 dan 64 tahun menunjukkan bahwa mereka yang minum satu liter susu per hari memiliki kemungkinan 8% lebih kecil untuk berkembang menjadi penyakit jantung dibandingkan mereka yang minum kurang dari satu liter susu per hari.
Gigi
Dokter gigi sering mengatakan bahwa air, susu, atau teh yang tidak manis dan kopi merupakan minuman yang dapat dikonsumsi diantara makanan karena tidak menyebabkan kerusakan gigi. Sebaliknya gula yang terkandung dalam jus buah-buahan dan minuman soda dapat menyebabkan erosi pada gigi terutama sewaktu minum diantara makanan, yaitu ketika mulut tidak memproduksi saliva yang membantu merusak bahan-bahan berbahaya. Penelitian juga menunjukkan bahwa keju sangat baik bagi gigi ketika dimakan setelah makanan karena kalsium dan protein yang terkandung dalam keju akan membantu menetralisir asam dalam mulut.
Tekanan darah
Tekanan darah tinggi dapat berujung pada terjadinya penyakit jantung dan stroke. Penelitian menunjukkan bahwa pola makan yang kaya akan produk susu dapat mengurangi risiko penyakit tersebut. Mengonsumsi produk susu yang rendah lemak, buah-buahan, dan sayuran diketahui sangat efektif untuk mengurangi tekanan darah. Pola makan seperti ini jauh lebih efektif dibandingkan beberapa pengobatan tekanan darah.
Kanker usus
Produk susu juga dapat membantu mengurangi risiko terjadinya kanker usus. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa mereka yang mengonsumsi suplemen kalsium memiliki kemungkinan yang kecil untuk terkena adenomas (awal dari kanker usus). Sebaliknya jika tidak memasukkan produk susu dalam pola makan, maka akan dapat meningkatkan risiko kanker usus akibat meningkatnya toksin dalam feses kita.
Tuesday, 30 November 2010
Minum Susu Ternak Turunkan Alergi dan Asma
Minum susu ternak diketahui dapat melindungi anak terhadap asma dan demam (hayfever), demikian menurut studi pada hampir 15.000 anak yang dipublikasikan dalam jurnal Clinical and Experimental Allergy. Tapi, konsumsi susu ternak yang tidak direbus menyebabkan risiko kesehatan yang serius dan penelitian lebih jauh diperlukan untuk mengembangkan produk aman yang bisa memberikan perlindungan terhadap penyakit pada masa anak-anak.
Para peneliti dari Eropa dan Amerika mempelajari sekitar 14.893 anak-anak berumur 5-13 tahun. Anak-anak tersebut berasal dari anak peternakan, komunitas daerah pinggiran kota dan desa yang keluarganya hidup sederhana, membatasi penggunaan antibiotika, vaksinasi, obat penurun demam, dan sering menjalani diet biodinamik.
Para orang tua diminta melengkapi kuisioner mengenai konsumsi susu, mentega, yoghurt, telur, buah dan sayur pada anak-anak mereka dan apakah didapat dari peternakan atau dibeli dari toko. Mereka juga menjawab pertanyaan tentang tinggi dan berat badan anak-anaknya, apakah mereka diberi ASI dan masalah alergi dan asma yang mengenai anak mereka. Tes darah berkaitan dengan alergi dilakukan pada 4.000 anak dari lima negara dan hasil kuesioner divalidasi dengan wawancara telepon acak dengan 493 responden.
Para peneliti menemukan bahwa anak-anak yang minum susu ternak lebih sedikit menderita demam dan asma. Tingkat diagnosa asma lebih rendah juga diamati pada semua produk hasil ternak dan konsumsi telur ternak juga memberikan perlindungan terhadap hayfever. Namun, makanan-makanan itu hanya memberikan proteksi jika anak-anak juga minum susu ternak tanpa pasteurisasi.
Semua anak yang minum susu ternak tanpa pasteurisasi dan makan produk harian dari peternakan menunjukkan tingkat perlindungan yang sama terhadap asma dan alergi, tidak tergantung apakah hidup di peternakan atau tidak
Kira-kira setengah dari orang tua yang menceritakan bahwa anak-anak mereka secara teratur minum susu ternak, mengatakan bahwa mereka tidak merebus susu sebelum memberikannya pada mereka. Hasil perlindungannya adalah sama, tidak tergantung apakah susu itu direbus atau tidak. Namun, minum susu mentah tidak direkomendasikan, khususnya pada anak-anak muda.
Hasil studi tersebut mengindikasikan bahwa anak-anak yang minum susu ternak lebih rendah peluangnya terkena asma dan hayfever. Namun demikian, susu mentah mengandung patogen seperti Salmonella atau E. coli yang dapat membahayakan kesehatan secara serius. Kita pelu lebih memahami mengapa susu ternak lebih tinggi tingkat proteksinya pada anak-anak dan menyelidiki upaya membuat produk yang lebih aman, sambil mempertahankan mutu perlindungannya. Walaupun temuan mereka demikian, mereka tetap tidak merekomendasikan mengonsumsi susu ternak mentah sebagai ukuran perlindungan terhadap asma dan alergi.
Sumber: Clinical and Experimental Allergy
Para peneliti dari Eropa dan Amerika mempelajari sekitar 14.893 anak-anak berumur 5-13 tahun. Anak-anak tersebut berasal dari anak peternakan, komunitas daerah pinggiran kota dan desa yang keluarganya hidup sederhana, membatasi penggunaan antibiotika, vaksinasi, obat penurun demam, dan sering menjalani diet biodinamik.
Para orang tua diminta melengkapi kuisioner mengenai konsumsi susu, mentega, yoghurt, telur, buah dan sayur pada anak-anak mereka dan apakah didapat dari peternakan atau dibeli dari toko. Mereka juga menjawab pertanyaan tentang tinggi dan berat badan anak-anaknya, apakah mereka diberi ASI dan masalah alergi dan asma yang mengenai anak mereka. Tes darah berkaitan dengan alergi dilakukan pada 4.000 anak dari lima negara dan hasil kuesioner divalidasi dengan wawancara telepon acak dengan 493 responden.
Para peneliti menemukan bahwa anak-anak yang minum susu ternak lebih sedikit menderita demam dan asma. Tingkat diagnosa asma lebih rendah juga diamati pada semua produk hasil ternak dan konsumsi telur ternak juga memberikan perlindungan terhadap hayfever. Namun, makanan-makanan itu hanya memberikan proteksi jika anak-anak juga minum susu ternak tanpa pasteurisasi.
Semua anak yang minum susu ternak tanpa pasteurisasi dan makan produk harian dari peternakan menunjukkan tingkat perlindungan yang sama terhadap asma dan alergi, tidak tergantung apakah hidup di peternakan atau tidak
Kira-kira setengah dari orang tua yang menceritakan bahwa anak-anak mereka secara teratur minum susu ternak, mengatakan bahwa mereka tidak merebus susu sebelum memberikannya pada mereka. Hasil perlindungannya adalah sama, tidak tergantung apakah susu itu direbus atau tidak. Namun, minum susu mentah tidak direkomendasikan, khususnya pada anak-anak muda.
Hasil studi tersebut mengindikasikan bahwa anak-anak yang minum susu ternak lebih rendah peluangnya terkena asma dan hayfever. Namun demikian, susu mentah mengandung patogen seperti Salmonella atau E. coli yang dapat membahayakan kesehatan secara serius. Kita pelu lebih memahami mengapa susu ternak lebih tinggi tingkat proteksinya pada anak-anak dan menyelidiki upaya membuat produk yang lebih aman, sambil mempertahankan mutu perlindungannya. Walaupun temuan mereka demikian, mereka tetap tidak merekomendasikan mengonsumsi susu ternak mentah sebagai ukuran perlindungan terhadap asma dan alergi.
Sumber: Clinical and Experimental Allergy
Probiotik Atasi Gangguan Pencernaan Orang tua
Probiotik yang dikemas dalam bentuk minuman seperti yogurt atau dalam bentuk kapsul diketahui dapat melindungi pencernaan akibat berbagai kondisi yang sering terjadi pada orang tua. Meskipun demikian, para peneliti mengatakan agar lebih berhati-hati dalam memilih produk probiotik yang dijual di pasaran karena cukup banyak produk yang meng"klaim" mengandung probiotik namun kenyataannya tidak efektif.
Produk probiotik yang baik adalah yang memiliki kemampuan memperbaiki strain bakteri hidup dalam saluran pencernaan, seperti bifidobacteria atau lactobacilli. Selain itu, produk tersebut juga harus memiliki kandungan bakteri sekitar 10 juta bakteri atau lebih. Syarat ini dikeluarkan oleh New European Union sebagai syarat yang harus dipenuhi untuk disebut sebagai produk yang mengandung probiotik.
Perlu diketahui, orang tua memiliki jumlah bakteri baik di dalam usus lebih sedikit dibandingkan dengan yang dimiliki oleh mereka yang berusia muda. Dan sebaliknya, orang tua memiliki bakteri jahat yang lebih banyak di ususnya bila dibandingkan yang dimiliki oleh anak muda.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kadar bakteri baik di usus pada orang tua yang berusia diatas 60 tahun berkurang sekitar 1.000 bakteri baik bila dibandingkan dengan yang dimiliki oleh anak muda. Hal itu menyebabkan sering timbulnya masalah infeksi pencernaan yang dialami oleh orang tua.
Kita sebenarnya memiliki bakteri baik di usus yang berguna untuk mencerna makanan dengan baik dan juga bermanfaat melindungi tubuh dari berbagai penyakit. Jadi untuk menjaga kondisi tersebut dibutuhkan adanya keseimbangan antara jumlah bakteri baik dan bakteri jahat.
Orang tua dengan jumlah bakteri baik yang lebih sedikit diketahui dengan pemberian suplemen probiotik dapat membantu menjaga keseimbangan mikroba dalam saluran pencernaannya. Probiotik mengandung strain bakteri hidup yang dapat dicampurkan dalam bubuk (tepung), yogurt, jus buah maupun berbagai produk lainnya.
Probiotik diketahui dapat melindungi orang tua dari berbagai komplikasi yang disebabkan oleh racun bakteri, seperti E. coli. Disebutkan pula bahwa penggunaan probiotik dalam melawan berbagai kondisi pencernaan seperti diare maupun diare yang berhubungan dengan penggunaan antibiotik.
Produk probiotik yang baik adalah yang memiliki kemampuan memperbaiki strain bakteri hidup dalam saluran pencernaan, seperti bifidobacteria atau lactobacilli. Selain itu, produk tersebut juga harus memiliki kandungan bakteri sekitar 10 juta bakteri atau lebih. Syarat ini dikeluarkan oleh New European Union sebagai syarat yang harus dipenuhi untuk disebut sebagai produk yang mengandung probiotik.
Perlu diketahui, orang tua memiliki jumlah bakteri baik di dalam usus lebih sedikit dibandingkan dengan yang dimiliki oleh mereka yang berusia muda. Dan sebaliknya, orang tua memiliki bakteri jahat yang lebih banyak di ususnya bila dibandingkan yang dimiliki oleh anak muda.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kadar bakteri baik di usus pada orang tua yang berusia diatas 60 tahun berkurang sekitar 1.000 bakteri baik bila dibandingkan dengan yang dimiliki oleh anak muda. Hal itu menyebabkan sering timbulnya masalah infeksi pencernaan yang dialami oleh orang tua.
Kita sebenarnya memiliki bakteri baik di usus yang berguna untuk mencerna makanan dengan baik dan juga bermanfaat melindungi tubuh dari berbagai penyakit. Jadi untuk menjaga kondisi tersebut dibutuhkan adanya keseimbangan antara jumlah bakteri baik dan bakteri jahat.
Orang tua dengan jumlah bakteri baik yang lebih sedikit diketahui dengan pemberian suplemen probiotik dapat membantu menjaga keseimbangan mikroba dalam saluran pencernaannya. Probiotik mengandung strain bakteri hidup yang dapat dicampurkan dalam bubuk (tepung), yogurt, jus buah maupun berbagai produk lainnya.
Probiotik diketahui dapat melindungi orang tua dari berbagai komplikasi yang disebabkan oleh racun bakteri, seperti E. coli. Disebutkan pula bahwa penggunaan probiotik dalam melawan berbagai kondisi pencernaan seperti diare maupun diare yang berhubungan dengan penggunaan antibiotik.
Benarkah Kesehatan Lansia Menurun Akibat Kesepian?
Pada kondisi yang sudah lanjut, umumnya lansia kurang dihargai, tersisih dari kehidupan masyarakat dan tidak jarang mereka menjadi orang yang terlantar. Fenomena ini terjadi karena adanya pergeseran nilai budaya tradisional, yaitu mereka menganut norma yang menganggap orangtua bagian dari kehidupan keluarga yang tidak dapat dipisahkan dan didasarkan pada suatu ikatan kekerabatan yang kuat dan orang tua dihormati serta dihargai sehingga anak-anak mempunyai kewajiban untuk mengurus orangtua. Namun, norma ini menjadi semakin berkurang dengan adanya kemajuan zaman.
Di pihak lain, sebagian dari orang yang lebih muda masih beranggapan para lansia tidak perlu aktif dalam urusan kehidupan sehari-hari. Semua hal-hal yang diuraikan di atas akan memperburuk fungsi integrasi sosial dari para lansia dengan lingkungannya sehingga terjadi kesenjangan antara lansia dengan mereka yang lebih muda. Akibatnya, lansia hidup dalam keterasingan dan merasa kesepian yang akhirnya dapat menyebabkan depresi serta menurunnya daya tahan tubuh dengan segala manifestasi penyakit yang dapat ditimbulkannya.
Oleh karena itu, dalam konteks mengatasi kesepian lansia ditinjau dari segi sosial budaya dan psikologik berarti lansia perlu meningkatkan komunikasinya dengan orang lain atau masyarakat dan anggota masyarakat perlu menciptakan kondisi kehidupan bersama yang harmonis.
Perlu diketahui, kita sebenarnya tidak mendadak menjadi tua ketika kita mencapai usia 65 tahun, ketika menjadi kakek atau nenek atau ketika mengalami menopause. Kita hanya tua jika kita merasa tua, jika kita menganut sikap bergantung kepada orang lain, tidak mandiri, membatasi aktivitas fisik dan mental, serta membatasi ruang lingkup pergaulan dengan orang lain. Memang setiap orang membutuhkan hubungan sosial dengan orang lain yang akrab dan mendalam. Kesepian yang merupakan derita batin dan dapat menghilangkan makna hidup dan eksistensi seseorang sebagai makhluk sosial mungkin saja terjadi jika hubungan sosial tersebut tidak terpenuhi.
Ditinjau dari segi sosiologis seseorang mengalami kesepian karena merasa terasing, tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan, dan perubahan pada pola kekerabatan. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi kesepian pada lansia dapat berupa sosialisasi tentang eksistensi lansia, meningkatkan peran lansia dalam organisasi, sosialisasi nilai budaya lokal suku bangsa, pembinaan hubungan antar generasi, membudayakan hidup serumah dengan lansia, maupun mengadakan pendidikan informal bagi lansia.
Di pihak lain, sebagian dari orang yang lebih muda masih beranggapan para lansia tidak perlu aktif dalam urusan kehidupan sehari-hari. Semua hal-hal yang diuraikan di atas akan memperburuk fungsi integrasi sosial dari para lansia dengan lingkungannya sehingga terjadi kesenjangan antara lansia dengan mereka yang lebih muda. Akibatnya, lansia hidup dalam keterasingan dan merasa kesepian yang akhirnya dapat menyebabkan depresi serta menurunnya daya tahan tubuh dengan segala manifestasi penyakit yang dapat ditimbulkannya.
Oleh karena itu, dalam konteks mengatasi kesepian lansia ditinjau dari segi sosial budaya dan psikologik berarti lansia perlu meningkatkan komunikasinya dengan orang lain atau masyarakat dan anggota masyarakat perlu menciptakan kondisi kehidupan bersama yang harmonis.
Perlu diketahui, kita sebenarnya tidak mendadak menjadi tua ketika kita mencapai usia 65 tahun, ketika menjadi kakek atau nenek atau ketika mengalami menopause. Kita hanya tua jika kita merasa tua, jika kita menganut sikap bergantung kepada orang lain, tidak mandiri, membatasi aktivitas fisik dan mental, serta membatasi ruang lingkup pergaulan dengan orang lain. Memang setiap orang membutuhkan hubungan sosial dengan orang lain yang akrab dan mendalam. Kesepian yang merupakan derita batin dan dapat menghilangkan makna hidup dan eksistensi seseorang sebagai makhluk sosial mungkin saja terjadi jika hubungan sosial tersebut tidak terpenuhi.
Ditinjau dari segi sosiologis seseorang mengalami kesepian karena merasa terasing, tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan, dan perubahan pada pola kekerabatan. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi kesepian pada lansia dapat berupa sosialisasi tentang eksistensi lansia, meningkatkan peran lansia dalam organisasi, sosialisasi nilai budaya lokal suku bangsa, pembinaan hubungan antar generasi, membudayakan hidup serumah dengan lansia, maupun mengadakan pendidikan informal bagi lansia.
Lansia Sehat dengan Vitamin E dan Olah Raga
Tidak diragukan lagi, olah raga merupakan salah satu cara untuk mencegah atau menunda penyakit yang berkaitan dengan faktor usia, seperti penyakit jantung, kanker, dan alzheimer. Begitu halnya dengan suplemen vitamin E dengan kandungan antioksidannya. Bagaimana jika keduanya digabung? Ternyata memberikan pertahanan bersama yang lebih baik dibandingkan terpisah dalam menghadapi beberapa penyakit yang disebabkan akibat faktor usia. Pernyataan itu didasarkan pada hasil penelitian dalam Biological Research for Nursing Journal.
Metode anti penuaan tersebut diteliti pada 59 pria dan wanita berusia antara 60 dan 70 tahun yang tidak melakukan olah raga secara teratur. Setengah dari mereka meneruskan cara duduk-duduk mereka, sedangkan setengah yang lainnya mulai olah raga selama 60 menit, dua kali seminggu. Kedua kelompok kemudian dibagi sehingga setengahnya melakukan olah raga dan sisanya menerima baik suplemen vitamin E (800 IU) maupun placebo.
Baik mereka yang olah raga atau tidak dan mereka yang mengonsumsi vitamin E diketahui memiliki penurunan yang sama terhadap zat berbahaya yang dikenal sebagai free radicals, yaitu molekul tidak stabil yang dapat merusak sel dan diyakini menyebabkan berbagai penyakit. Namun, bukan berarti olah raga tidak perlu.
Olah raga memberikan perlindungan tersendiri, yaitu meningkatkan zat antioksidan yang dapat menyerang free radicals tersebut. Olah raga juga mengurangi faktor risiko obesitas, hipertensi, dan diabetes yang memperburuk kerusakan sel akibat free radicals.
Penelitian lainnya menunjukkan bahwa vitamin E memberikan keuntungan yang lebih terhadap mereka yang berolah raga. Selain itu, menurut penelitian yang dipublikasikan dalam American Journal of Epidemiology, vitamin E diketahui memperbaiki fungsi paru-paru pada mereka yang berolah raga ketika kualitas udaranya buruk.
Sumber: Biological Research for Nursing Journal
Metode anti penuaan tersebut diteliti pada 59 pria dan wanita berusia antara 60 dan 70 tahun yang tidak melakukan olah raga secara teratur. Setengah dari mereka meneruskan cara duduk-duduk mereka, sedangkan setengah yang lainnya mulai olah raga selama 60 menit, dua kali seminggu. Kedua kelompok kemudian dibagi sehingga setengahnya melakukan olah raga dan sisanya menerima baik suplemen vitamin E (800 IU) maupun placebo.
Baik mereka yang olah raga atau tidak dan mereka yang mengonsumsi vitamin E diketahui memiliki penurunan yang sama terhadap zat berbahaya yang dikenal sebagai free radicals, yaitu molekul tidak stabil yang dapat merusak sel dan diyakini menyebabkan berbagai penyakit. Namun, bukan berarti olah raga tidak perlu.
Olah raga memberikan perlindungan tersendiri, yaitu meningkatkan zat antioksidan yang dapat menyerang free radicals tersebut. Olah raga juga mengurangi faktor risiko obesitas, hipertensi, dan diabetes yang memperburuk kerusakan sel akibat free radicals.
Penelitian lainnya menunjukkan bahwa vitamin E memberikan keuntungan yang lebih terhadap mereka yang berolah raga. Selain itu, menurut penelitian yang dipublikasikan dalam American Journal of Epidemiology, vitamin E diketahui memperbaiki fungsi paru-paru pada mereka yang berolah raga ketika kualitas udaranya buruk.
Sumber: Biological Research for Nursing Journal
Puasa Sehat untuk Lansia
Kelompok lansia aman dalam berpuasa , sepanjang kondisi fisiknya masih stabil, penyakit terkontrol, dan tidak ada infeksi yang akut.
Secara fisik, menjadi tua memang membuat seseorang memiliki berbagai keterbatasan. Oleh karena itu lansia sering dicap sebagai kelompok orang yang lemah dan mudah jatuh sakit. Kondisi seperti ini, tak mengherankan bila para lansia sering diragukan kemampuannya untuk berpuasa.
Sebenarnya dalam hal puasa, kemampuan lansia tidak perlu terlampau dirisaukan. Mereka aman-aman saja berpuasa sepanjang kondisi fisiknya stabil, penyakitnya terkontrol, dan tidak ada infeksi akut. Justru, puasa bisa mendatangkan manfaat bagi kesehatan mereka.
Sejumlah penelitian mengenai puasa sering dilakukan oleh beberapa negara. Penelitian pada tahun 1995 terhadap 16 wanita berusia 25-39 tahun di Tunisia menunjukkan tidak terjadinya perubahan berat badan dan komposisi tubuh selama puasa. Diketahui pula, selama berpuasa juga terjadi penurunan konsentrasi insulin, sementara jumlah asupan kalori tidak berubah. Hanya pola dan jenis makanannya saja yang berubah.
Penelitian lain menunjukkan tidak ada gangguan fungsi ginjal pada kaum lansia yang berpuasa selama asupan cairan tubuhnya terpenuhi, yaitu antara 1.5 - 2 liter/ hari. Hasil penelitian puasa pada usia lanjut juga menunjukkan terjadinya penurunan kolesterol total bagi para lansia yang berpuasa. Kolesterol LDL, trigliserida, dan asam urat juga menurun. Puasa juga menurunkan asupan kalori sekitar 12-15%, meningkatkan kadar antioksidan, dan menurunkan radikal bebas. Tahukah Anda, radikal bebas yang berlebihan di dalam tubuh akan mengurangi aktivitas kerja enzim, menyebabkan terjadinya mutasi, dan kerusakan dinding sel. Ada sekitar 50 penyakit degeneratif, termasuk penyakit jantung dan stroke, yang dicetuskan oleh senyawa radikal bebas.
Secara fisik, menjadi tua memang membuat seseorang memiliki berbagai keterbatasan. Oleh karena itu lansia sering dicap sebagai kelompok orang yang lemah dan mudah jatuh sakit. Kondisi seperti ini, tak mengherankan bila para lansia sering diragukan kemampuannya untuk berpuasa.
Sebenarnya dalam hal puasa, kemampuan lansia tidak perlu terlampau dirisaukan. Mereka aman-aman saja berpuasa sepanjang kondisi fisiknya stabil, penyakitnya terkontrol, dan tidak ada infeksi akut. Justru, puasa bisa mendatangkan manfaat bagi kesehatan mereka.
Sejumlah penelitian mengenai puasa sering dilakukan oleh beberapa negara. Penelitian pada tahun 1995 terhadap 16 wanita berusia 25-39 tahun di Tunisia menunjukkan tidak terjadinya perubahan berat badan dan komposisi tubuh selama puasa. Diketahui pula, selama berpuasa juga terjadi penurunan konsentrasi insulin, sementara jumlah asupan kalori tidak berubah. Hanya pola dan jenis makanannya saja yang berubah.
Penelitian lain menunjukkan tidak ada gangguan fungsi ginjal pada kaum lansia yang berpuasa selama asupan cairan tubuhnya terpenuhi, yaitu antara 1.5 - 2 liter/ hari. Hasil penelitian puasa pada usia lanjut juga menunjukkan terjadinya penurunan kolesterol total bagi para lansia yang berpuasa. Kolesterol LDL, trigliserida, dan asam urat juga menurun. Puasa juga menurunkan asupan kalori sekitar 12-15%, meningkatkan kadar antioksidan, dan menurunkan radikal bebas. Tahukah Anda, radikal bebas yang berlebihan di dalam tubuh akan mengurangi aktivitas kerja enzim, menyebabkan terjadinya mutasi, dan kerusakan dinding sel. Ada sekitar 50 penyakit degeneratif, termasuk penyakit jantung dan stroke, yang dicetuskan oleh senyawa radikal bebas.
Trik Menjaga Stamina di Usia Tua
Jangan heran jika Anda mengajak bicara dengan lansia, ternyata ia tidak begitu menggubris Anda. jangan pula heran kalau obrolan yang Anda ciptakan menjadi tak nyambung.
Begitulah lansia yang tengah menapaki proses kodrati alamiah yang tak mungkin dihindari. Seiring dengan meningkatnya usianya, beberapa fungsi vital dalam tubuhnya ikut mengalami kemunduran. Pendengaran mulai menurun, penglihatan kabur, dan kekuatan fisiknya pun mulai melemah.
Beruntung jika ia rajin melakukan medical check-up, sehingga ia dapat menangani kemungkinan adanya penyakit sedini mungkin. Daripada tahu-tahu penyakit berat bertengger di tubuhnya.
Beberapa penyakit yang akrab dengan lansia: diabetes mellitus (kencing manis), jantung, hipertensi, pembesaran prostat, dan katarak. Osteoporosis juga merupakan salah satu penyakit yang sering menyerang lansia.
Diabetes mellitus merupakan penyakit yang terjadi akibat gangguan pankreas (organ tubuh penghasil insulin). Penyebabnya bisa jadi karena keturunan, namun juga faktor gaya hidup "modern". Jika tidak ditangani dengan baik, penyakit ini dapat memicu komplikasi penyakit lain, seperti katarak, kebutaan, retinopati, glaukoma.
Akibat perubahan gaya hidup, terutama dalam hal pola makan, penyakit lain seperti hipertensi, jantung koroner, dan penyakit pembuluh darah lain pun semakin mudah menyerang.
Sementara itu, gangguan pembesaran kelenjar prostat termasuk penyakit yang ditakuti para pria di atas 40 tahun. Penderita prostat biasanya menunjukkan gejala sering kencing (5-10 kali) pada malam hari, tapi penderita merasa tidak puas setelah kencing, meski telah mengejan.
Menurunnya fungsi penglihatan pada lansia juga bukan sesuatu yang aneh. Penurunan fungsi penglihatan tersebut dapat berupa ketidakmampuan melihat benda yang di dekatnya atau tiba-tiba mata terasa pedih, pegal, dan memerah. Dalam istilah kedokteran, gangguan yang disebut sebagai degenerasi makula itu biasanya menyerang lansia penderita diabetes, tekanan darah tinggi.
Status Gizi
Menjadi tua adalah proses alami yang tak mungkin dihindari. Satu hal yang patut Anda perhatikan adalah bagaimana menjaga stamina tubuh agar selalu fit. Antara lain dengan memperhatikan asupan gizi yang dikonsumsi setiap hari.
Begitulah lansia yang tengah menapaki proses kodrati alamiah yang tak mungkin dihindari. Seiring dengan meningkatnya usianya, beberapa fungsi vital dalam tubuhnya ikut mengalami kemunduran. Pendengaran mulai menurun, penglihatan kabur, dan kekuatan fisiknya pun mulai melemah.
Beruntung jika ia rajin melakukan medical check-up, sehingga ia dapat menangani kemungkinan adanya penyakit sedini mungkin. Daripada tahu-tahu penyakit berat bertengger di tubuhnya.
Beberapa penyakit yang akrab dengan lansia: diabetes mellitus (kencing manis), jantung, hipertensi, pembesaran prostat, dan katarak. Osteoporosis juga merupakan salah satu penyakit yang sering menyerang lansia.
Diabetes mellitus merupakan penyakit yang terjadi akibat gangguan pankreas (organ tubuh penghasil insulin). Penyebabnya bisa jadi karena keturunan, namun juga faktor gaya hidup "modern". Jika tidak ditangani dengan baik, penyakit ini dapat memicu komplikasi penyakit lain, seperti katarak, kebutaan, retinopati, glaukoma.
Akibat perubahan gaya hidup, terutama dalam hal pola makan, penyakit lain seperti hipertensi, jantung koroner, dan penyakit pembuluh darah lain pun semakin mudah menyerang.
Sementara itu, gangguan pembesaran kelenjar prostat termasuk penyakit yang ditakuti para pria di atas 40 tahun. Penderita prostat biasanya menunjukkan gejala sering kencing (5-10 kali) pada malam hari, tapi penderita merasa tidak puas setelah kencing, meski telah mengejan.
Menurunnya fungsi penglihatan pada lansia juga bukan sesuatu yang aneh. Penurunan fungsi penglihatan tersebut dapat berupa ketidakmampuan melihat benda yang di dekatnya atau tiba-tiba mata terasa pedih, pegal, dan memerah. Dalam istilah kedokteran, gangguan yang disebut sebagai degenerasi makula itu biasanya menyerang lansia penderita diabetes, tekanan darah tinggi.
Status Gizi
Menjadi tua adalah proses alami yang tak mungkin dihindari. Satu hal yang patut Anda perhatikan adalah bagaimana menjaga stamina tubuh agar selalu fit. Antara lain dengan memperhatikan asupan gizi yang dikonsumsi setiap hari.
Subscribe to:
Posts (Atom)
