Hepatitis merupakan penyakit gangguan fungsi hati yang banyak sekali jenisnya. Hingga saat ini telah ditemukan 7 jenis virus hepatitis.
Macam-macam jenisnya, antara lain:
Virus hepatitis A (VHA)
Ditularkan melalui air dan kotoran (tinja).
Virus hepaptis B (VHB)
Ditularkan melalui darah dari orang yang terinfeksi, seperti pemakaian jarum suntik yang sama pada penderita hepatitis, hubungan intim, dan yang lainnya. Virus hepatitis b dapat menyebabkan kerusakan hati dan kanker hati.
Virus hepatitis C (HCV)
Sama dengan hepatitis B, virus hepatitis C ini juga ditularkan melalui darah. Virus hepatitis C dapat menyebabkan kerusakan hati dan kanker hati.
Virus hepatitis D(HVD)
Sering sekali menyerang orang yang rentan terhadap hepatitis B.
Virus hepatitis E (HEV)
Virus ini ditularkan melalui air yang terkontaminasi. Umumnya virus hepatitis E ini ditemukan pada anak-anak dan orang dewasa di negara-negara berkembang.
Virus hepatitis F (HFV)
Gejalanya mirip dengan hepatitis B. Yang membedakan adalah virus yang mengkontaminasinya.
Virus hepatitis G (HGV)
Jenis virus hepatitis G ini baru ditemukan sehingga belum banyak diketahui tentang sifat-sifatnya.
Tuesday, 30 September 2008
Hamil dan Hepatitis C (1/2)
Virus hepatitis C ditemukan sekitar tahun 1987. Sebelumnya hanya ada 2 jenis hepatitis yang diketahui, yaitu hepatitis A dan hepatitis B. Hal itulah yang menyebabkan hepatitis C sempat disebut sebagai virus non A – non B.
Hepatitis C adalah salah satu dari sekian banyak jenis penyakit hepatitis, atau penyakit gangguan fungsi hati. Virus hepatitis C dapat menyebabkan kerusakan hati dan kanker hati. Jika dibandingkan dengan hepatitis B, hepatitis C lebih sering menyebabkan penyakit menahun.
Pada umumnya seseorang yang menderita penyakit hepatitis akan menderita gejala seperti berikut: letih, demam, mual, kurang nafsu makan, warna urin keruh (seperti air teh), dan nyeri perut pada bagian kanan atas. Selain itu kuku, kulit, bola mata yang berwarna putih akan berubah menjadi berwarna kekuningan. Warna kuning ini timbul akibat adanya cairan empedu yang berlebihan di dalam darah. Oleh karena itu hepatitis C disebut juga sebagai sakit kuning.
Hepatitis C sering terjadi tanpa gejala. Menurut penelitian, hanya 5% dari penderita hepatitis C mengalami gejala-gejalanya. Jika timbul gejala, kadang hilang dan kadang timbul. Selain itu kadar SGOT (enzim yang terdapat di otot jantung dan hati) dan juga SGPT (enzim yang terdapat di sel-sel hati) seringkali terlihat normal. Padahal jika kadar kedua enzim itu naik, dapat dideteksi terjadinya gangguan hati. Tak heran oleh karena itu, penyakit ini sering sekali terabaikan dan penderita tanpa sadar menularkannya pada orang lain.
Hepatitis C adalah salah satu dari sekian banyak jenis penyakit hepatitis, atau penyakit gangguan fungsi hati. Virus hepatitis C dapat menyebabkan kerusakan hati dan kanker hati. Jika dibandingkan dengan hepatitis B, hepatitis C lebih sering menyebabkan penyakit menahun.
Pada umumnya seseorang yang menderita penyakit hepatitis akan menderita gejala seperti berikut: letih, demam, mual, kurang nafsu makan, warna urin keruh (seperti air teh), dan nyeri perut pada bagian kanan atas. Selain itu kuku, kulit, bola mata yang berwarna putih akan berubah menjadi berwarna kekuningan. Warna kuning ini timbul akibat adanya cairan empedu yang berlebihan di dalam darah. Oleh karena itu hepatitis C disebut juga sebagai sakit kuning.
Hepatitis C sering terjadi tanpa gejala. Menurut penelitian, hanya 5% dari penderita hepatitis C mengalami gejala-gejalanya. Jika timbul gejala, kadang hilang dan kadang timbul. Selain itu kadar SGOT (enzim yang terdapat di otot jantung dan hati) dan juga SGPT (enzim yang terdapat di sel-sel hati) seringkali terlihat normal. Padahal jika kadar kedua enzim itu naik, dapat dideteksi terjadinya gangguan hati. Tak heran oleh karena itu, penyakit ini sering sekali terabaikan dan penderita tanpa sadar menularkannya pada orang lain.
Hamil dan Hepatitis C (2/2)
Mereka yang beresiko tertular hepatitis C adalah:
1. Pecandu narkoba, yang menggunakan jarum suntik secara bergantian.
2. Orang yang menerima transfusi darah. Darah yang digunakan untuk transfusi tidak diperiksa terlebih dahulu.
3. Orang yang membuat tato atau tindik dengan menggunakan benda-benda tajam yang tidak steril.
4. Berhubungan seksual dengan orang yang terinfeksi. Sehingga terjadi kontak darah antara yan gterinfeksi dan yang tidak.
5. Orang yang sedang melakukan cuci darah.
6. Orang yang sedang menerima cangkok organ.
7. Pekerja kesehatan, seperti dokter, perawat, dan lainnya.
Ibu yang terkena penyakit hepatitis C ini tidak akan menularkan bayinya. Penyakit ini bukan jenis penyakit yang genetik. Namun sebaiknya ibu hamil yang mengidap hepatitis C mengkonsultasikan keadaan kesehatannya pada dokter kandungan.
Ibu juga tidak boleh mengkonsumsi obat-obatan yang dapat menyembuhkan penyakit ini karena akan beresiko pada janin, dan menyebabkan bayi lahir cacat hingga mengalami keguguran. Ibu harus menjaga kesehatannya dengan cara banyak istirahat dan mengkonsumsi makanan bergizi. Dengan demikian, diharapkan kekebalan tubuhnya akan terbentuk.
Pengobatan hepatitis pada ibu akan diberikan setelah persalinan dan kondisi ibu sudah pulih benar. Namun umumnya, ibu yang mengidap hepatitis C tidak dianjurkan untuk hamil selama menjalani terapi pengobatan dan 6 bulan setelah pengobatan terakhir.
1. Pecandu narkoba, yang menggunakan jarum suntik secara bergantian.
2. Orang yang menerima transfusi darah. Darah yang digunakan untuk transfusi tidak diperiksa terlebih dahulu.
3. Orang yang membuat tato atau tindik dengan menggunakan benda-benda tajam yang tidak steril.
4. Berhubungan seksual dengan orang yang terinfeksi. Sehingga terjadi kontak darah antara yan gterinfeksi dan yang tidak.
5. Orang yang sedang melakukan cuci darah.
6. Orang yang sedang menerima cangkok organ.
7. Pekerja kesehatan, seperti dokter, perawat, dan lainnya.
Ibu yang terkena penyakit hepatitis C ini tidak akan menularkan bayinya. Penyakit ini bukan jenis penyakit yang genetik. Namun sebaiknya ibu hamil yang mengidap hepatitis C mengkonsultasikan keadaan kesehatannya pada dokter kandungan.
Ibu juga tidak boleh mengkonsumsi obat-obatan yang dapat menyembuhkan penyakit ini karena akan beresiko pada janin, dan menyebabkan bayi lahir cacat hingga mengalami keguguran. Ibu harus menjaga kesehatannya dengan cara banyak istirahat dan mengkonsumsi makanan bergizi. Dengan demikian, diharapkan kekebalan tubuhnya akan terbentuk.
Pengobatan hepatitis pada ibu akan diberikan setelah persalinan dan kondisi ibu sudah pulih benar. Namun umumnya, ibu yang mengidap hepatitis C tidak dianjurkan untuk hamil selama menjalani terapi pengobatan dan 6 bulan setelah pengobatan terakhir.
Tes Kesehatan Sesuai Usia (Dari lahir – 6 tahun)
Sangatlah penting untuk melalukan medical check up secara teratur. Dengan begitu, Anda dapat memonitor kesehatan tubuh Anda dan dapat segera menangani penyakit sesegera mungkin.
Beriut ini panduan tes kesehatan sesuai usia untuk seluruh keluarga:
Dari lahir – 2 tahun
1. Riwayat kesehatan
Termasuk juga di dalamnya riwayat keluarga dan riwayat medis. Informasi ini berguna untuk menentukan penyakit yang mungkin timbul saat anak dewasa.
2. Periksakan TBC
Karena sistem imun anak belum tumbuh dengan sempurna, maka mereka adalah sasaran empuk infeksi (termasuk TBC). Namun tidak usah khawatir karena gejala TBC cukup terlihat. Contohnya saja seperti berat badan menurun dan nafsu makan berkurang.
3. Mengukur tinggi, berat badan, dan lingkar kepala
Lakukanlah pemeriksaan berkala setiap 6 bulan sekali untuk memantau tumbuh kembangnya.
4. Tes pendengaran
Lakukanlah tes ini saat usia si kecil 1,5 tahun. Pada banyak kasus, tidak dilakukannya pemeriksaan secara dini menyebabkan masalah pendengaran terlambat diketahui.
5. Tes darah usia 9 hingga 12 bulan
Khususnya bagi anak dengan resiko anemia dan kelainan darah lainnya.
2 – 6 tahun
1. Pengukuran tinggi dan berat badan
Lakukanlah kedua hal ini setiap tahun.
2. Pemeriksaan tekanan darah mulai usia 3 tahun.
Karena dikhawatirkan anak-anak usia remaja dapat menderita hipertensi remaja.
3. Pemeriksaan mata
Lakukanlah pemeriksaan ini saat anak berusia 3 hingga 4 tahun. Jika dibiarkan, masalah mata pada anak dapat menimbulkan masalah serius yang umumnya sering menimbulkan sakit kepala, rendahnya prestasi sekolah, serta gangguan serius lainnya.
4. Pemeriksaan gigi
Beriut ini panduan tes kesehatan sesuai usia untuk seluruh keluarga:
Dari lahir – 2 tahun
1. Riwayat kesehatan
Termasuk juga di dalamnya riwayat keluarga dan riwayat medis. Informasi ini berguna untuk menentukan penyakit yang mungkin timbul saat anak dewasa.
2. Periksakan TBC
Karena sistem imun anak belum tumbuh dengan sempurna, maka mereka adalah sasaran empuk infeksi (termasuk TBC). Namun tidak usah khawatir karena gejala TBC cukup terlihat. Contohnya saja seperti berat badan menurun dan nafsu makan berkurang.
3. Mengukur tinggi, berat badan, dan lingkar kepala
Lakukanlah pemeriksaan berkala setiap 6 bulan sekali untuk memantau tumbuh kembangnya.
4. Tes pendengaran
Lakukanlah tes ini saat usia si kecil 1,5 tahun. Pada banyak kasus, tidak dilakukannya pemeriksaan secara dini menyebabkan masalah pendengaran terlambat diketahui.
5. Tes darah usia 9 hingga 12 bulan
Khususnya bagi anak dengan resiko anemia dan kelainan darah lainnya.
2 – 6 tahun
1. Pengukuran tinggi dan berat badan
Lakukanlah kedua hal ini setiap tahun.
2. Pemeriksaan tekanan darah mulai usia 3 tahun.
Karena dikhawatirkan anak-anak usia remaja dapat menderita hipertensi remaja.
3. Pemeriksaan mata
Lakukanlah pemeriksaan ini saat anak berusia 3 hingga 4 tahun. Jika dibiarkan, masalah mata pada anak dapat menimbulkan masalah serius yang umumnya sering menimbulkan sakit kepala, rendahnya prestasi sekolah, serta gangguan serius lainnya.
4. Pemeriksaan gigi
Tes Kesehatan Sesuai Usia (7 – 49 tahun)
7 – 12 tahun
1. Pengukuran tinggi dan berat badan
2. Pemeriksaan tekanan darah
13 – 18 tahun
1. Pengukuran tinggi dan berat badan.
Bagi remaja yang beresiko, lengkapilah pemeriksaan darah dan kolesterol.
2. Lakukanlah pemeriksaan testis untuk pria.
Pemeriksaan ini dilakukan untuk memeriksa hernia dan ketumbuhan yang abnormal.
19 – 39 tahun
1. Pemeriksaan testis untuk pria.
2. Pemeriksaan pap smear untuk wanita
Tes ini harus dilakukan secara berkala setiap tahunnya. Seorang wanita mulai dari usia 18 tahun atau saat seorang wanita mulai aktif secara seksual harus melakukanpemeriksaan ini. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi kanker serviks. Setelah tiga kali dites dan hasilnya normal, dokter Anda mungkin akan memperjarang pemeriksaan pap smear Anda.
3. Pemeriksaan payudara untuk wanita
Lakukanlah setiap bulan, khususnya pada hari ke-5 setelah dimulainnya menstruasi.
4. Pemeriksaan payudara secara klinis
Lakukanlah pemeriksaan ini setiap 3 tahun sekali mulai saat Anda berusia 20 tahun.
5. Pemeriksaan kolesterol
Dilakukan setidaknya 5 tahun sekali.
40 – 49 tahun
1. Pemeriksaan tekanan darah (lakukan setiap tahun)
2. Pemeriksaan payudara dan mamografi secara klinis untuk wanita
Lakukanlah pemeriksaan ini setiap tahun, ditunjang dengan pemeriksaan payudara sendiri setiap bulan.
3. Pemeriksaan pelvis atau pap smear untuk wanita
Lakukanlah pemeriksaan ini setiap 1 hingga 3 tahun sekali.
4. Tes antigen khusus prostat
Pemeriksaan ini sangat penting dilakukan oleh pria yang memiliki riwayat kanker dalam keluarga, mulai usia 40 tahun.
5. Tes urin (lakukanlah setiap 1 hingga 2 tahun)
6. Monitor gula darah
Pemeriksaan ini penting untuk menghindari hiperglikemia atau diabetes.
7. Tes densitas tulang untuk wanita
Lakukanlah pemeriksaan ini saat dimulainya menopause untuk mendeteksi osteoporosis.
8. Pemeriksaan kolesterol (setidaknya 5 tahun sekali).
9. Electrocardiogram (ECG)
Lakukanlah pemeriksaan ini, terutama yang memiliki riwayat penyakit jantung dalam keluarga. Frekuensi pemeriksaan biasanya ditentukan oleh dokter.
1. Pengukuran tinggi dan berat badan
2. Pemeriksaan tekanan darah
13 – 18 tahun
1. Pengukuran tinggi dan berat badan.
Bagi remaja yang beresiko, lengkapilah pemeriksaan darah dan kolesterol.
2. Lakukanlah pemeriksaan testis untuk pria.
Pemeriksaan ini dilakukan untuk memeriksa hernia dan ketumbuhan yang abnormal.
19 – 39 tahun
1. Pemeriksaan testis untuk pria.
2. Pemeriksaan pap smear untuk wanita
Tes ini harus dilakukan secara berkala setiap tahunnya. Seorang wanita mulai dari usia 18 tahun atau saat seorang wanita mulai aktif secara seksual harus melakukanpemeriksaan ini. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi kanker serviks. Setelah tiga kali dites dan hasilnya normal, dokter Anda mungkin akan memperjarang pemeriksaan pap smear Anda.
3. Pemeriksaan payudara untuk wanita
Lakukanlah setiap bulan, khususnya pada hari ke-5 setelah dimulainnya menstruasi.
4. Pemeriksaan payudara secara klinis
Lakukanlah pemeriksaan ini setiap 3 tahun sekali mulai saat Anda berusia 20 tahun.
5. Pemeriksaan kolesterol
Dilakukan setidaknya 5 tahun sekali.
40 – 49 tahun
1. Pemeriksaan tekanan darah (lakukan setiap tahun)
2. Pemeriksaan payudara dan mamografi secara klinis untuk wanita
Lakukanlah pemeriksaan ini setiap tahun, ditunjang dengan pemeriksaan payudara sendiri setiap bulan.
3. Pemeriksaan pelvis atau pap smear untuk wanita
Lakukanlah pemeriksaan ini setiap 1 hingga 3 tahun sekali.
4. Tes antigen khusus prostat
Pemeriksaan ini sangat penting dilakukan oleh pria yang memiliki riwayat kanker dalam keluarga, mulai usia 40 tahun.
5. Tes urin (lakukanlah setiap 1 hingga 2 tahun)
6. Monitor gula darah
Pemeriksaan ini penting untuk menghindari hiperglikemia atau diabetes.
7. Tes densitas tulang untuk wanita
Lakukanlah pemeriksaan ini saat dimulainya menopause untuk mendeteksi osteoporosis.
8. Pemeriksaan kolesterol (setidaknya 5 tahun sekali).
9. Electrocardiogram (ECG)
Lakukanlah pemeriksaan ini, terutama yang memiliki riwayat penyakit jantung dalam keluarga. Frekuensi pemeriksaan biasanya ditentukan oleh dokter.
Tes Kesehatan Sesuai Usia (50 – 64 tahun)
50 – 64 tahun
1. Pemeriksaan tekanan darah (lakukan setiap tahun).
2. Fecal occult blood testing (FOTB) dan flexible sigmoidoscopy
Lakukanlah pemeriksaan ini setiap 5 tahun, atau kolonoskopi setiap 10 tahun untuk mendeteksi ada tidaknya kanker usus.
3. Tes antigen khusus prostat untuk pria
Lakukan tahunan bagi mereka yang tidak memiliki riwayat kanker dalam keluarga.
4. Pemeriksaan rectum digital untuk pria
Lakukanlah pemeriksaan ini setiap tahun. Pemeriksaan ini berguna untuk mendeteksi kanker prostat.
5. Pemeriksaan kolesterol (setidaknya 5 tahun sekali).
6. Pemeriksaan glukoma (lakukan setiap 2 tahun).
7. Pemeriksaan payudara dan mamografi klinis untuk wanita
Lakukanlah pemeriksaan setiap tahun dan lanjutkan dengan pemeriksaan payudara sendiri setiap bulannya.
8. Pemeriksaan testis untuk pria
Lakukanlah pemeriksaan ini setiap tahun, lakukanlah juga pemeriksaan testis sendiri untuk mendeteksi kanker testis.
9. Pemeriksaan kolesterol (setidaknya 5 tahun sekali).
10. Tes urin (Lakukanlah setiap 1 hingga 2 tahun).
11. Tes gula darah (lakukan setiap tahun).
12. Tes densitas tulang (lakukan setiap tahun).
13. ECG
Khususnya jika terdapat riwayat penyakit jantung dalam keluarga. Frekuensi umumnya ditentukan oleh dokter Anda.
1. Pemeriksaan tekanan darah (lakukan setiap tahun).
2. Fecal occult blood testing (FOTB) dan flexible sigmoidoscopy
Lakukanlah pemeriksaan ini setiap 5 tahun, atau kolonoskopi setiap 10 tahun untuk mendeteksi ada tidaknya kanker usus.
3. Tes antigen khusus prostat untuk pria
Lakukan tahunan bagi mereka yang tidak memiliki riwayat kanker dalam keluarga.
4. Pemeriksaan rectum digital untuk pria
Lakukanlah pemeriksaan ini setiap tahun. Pemeriksaan ini berguna untuk mendeteksi kanker prostat.
5. Pemeriksaan kolesterol (setidaknya 5 tahun sekali).
6. Pemeriksaan glukoma (lakukan setiap 2 tahun).
7. Pemeriksaan payudara dan mamografi klinis untuk wanita
Lakukanlah pemeriksaan setiap tahun dan lanjutkan dengan pemeriksaan payudara sendiri setiap bulannya.
8. Pemeriksaan testis untuk pria
Lakukanlah pemeriksaan ini setiap tahun, lakukanlah juga pemeriksaan testis sendiri untuk mendeteksi kanker testis.
9. Pemeriksaan kolesterol (setidaknya 5 tahun sekali).
10. Tes urin (Lakukanlah setiap 1 hingga 2 tahun).
11. Tes gula darah (lakukan setiap tahun).
12. Tes densitas tulang (lakukan setiap tahun).
13. ECG
Khususnya jika terdapat riwayat penyakit jantung dalam keluarga. Frekuensi umumnya ditentukan oleh dokter Anda.
Monday, 29 September 2008
Vitamin A
Vitamin A merupakan salah satu vitamin yang vital untuk menjaga kesehatan. Vitamin A tidak hanya bertanggung jawab pada kesehatan mata, tapi juga kekebalan tubuh. Kekurangan vitamin A dapat menyebabkan rendahnya respons imun, kesuburan, ganggguan pada pertumbuhan, serta rendahnya perkembangan mental.
Selain itu kelainan pada mata (xeroftalmia) dan buta senja merupakan sebagian contoh kekurangan vitamin A. Xeroftalmia berarti mata kering. Xeroftalmia timbul akibat kekeringan yang terjadi pada selaput lendir (konjungtiva) dan kornea (selaput bening) mata. Xeroftalmia yang tidak segera diobati dapat menyebabkan kebutaan. Sedangkan buta senja seringkali disebut sebagai rabun senja, rabun ayam, atau rabun malam.
Siapa yang rentan terkena xeroftalmia? Bayi yang tidak mendapatkan ASI ekslusif / tidak mendapatkan pengganti ASI yang baik dan cukup baik dari segi jumlah maupun kualitasnya), bayi yang lahir dengan berat badan rendah (BBLR) kurang dari 2, 5 kg, anak-anak yang kekurangan gizi, anak-anak yang menderita infeksi (TBC, campak, diare, pneumonia), anak-anak yang kurang / jarang makan makanan yang mengandung vitamin A. Selain bayi dan anak-anak, ibu hamil dan menyusui juga rentan terkena xeroftalmia.
Salah satu upaya untuk mencegah kekurangan vitamin A adalah dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin A, seperti nabati (karoten), hewani (retinol). Sayuran berdaun hijau (kangkung, bayam, daun pepaya, dll), buah-buahan yang berwarna orange(wortel, pepaya), susu, daging, hati, telur. Vitamin A juga dapat ditemukan di suplemen, seperti susu bubuk, kapsul vitamin A.
Menurut hasil temuan para ahli di bawah koordinasi WHO (tahun 2000) dan pertemuan-pertemuan yang dikoorinasi oleh IVACG (International Vitamin A Consultative Group), anjuran pemberian vitamin A adalah sebagai berikut :
1. Bayi 0 hingga 6 bulan adalah sebanyak 3 X 50.000IU.
2. Bayi 6 hingga 11 bulan adalah sebanyak 100.000 IU (kapsul biru).
3. Bayi 12 hingga 59 bulan adalah sebanyak 200.0000 IU (kapsul merah.
4. Ibu masa nifas adalah sebesar 400.000 IU (2X 200.0000 IU pada hari yang berbeda).
5. Ibu setelah masa nifas (ada juga kemungkinan sebagian hamil) adalah sebesar 10.000 IU/hari atau 25.000 IU/minggu.
Selain itu kelainan pada mata (xeroftalmia) dan buta senja merupakan sebagian contoh kekurangan vitamin A. Xeroftalmia berarti mata kering. Xeroftalmia timbul akibat kekeringan yang terjadi pada selaput lendir (konjungtiva) dan kornea (selaput bening) mata. Xeroftalmia yang tidak segera diobati dapat menyebabkan kebutaan. Sedangkan buta senja seringkali disebut sebagai rabun senja, rabun ayam, atau rabun malam.
Siapa yang rentan terkena xeroftalmia? Bayi yang tidak mendapatkan ASI ekslusif / tidak mendapatkan pengganti ASI yang baik dan cukup baik dari segi jumlah maupun kualitasnya), bayi yang lahir dengan berat badan rendah (BBLR) kurang dari 2, 5 kg, anak-anak yang kekurangan gizi, anak-anak yang menderita infeksi (TBC, campak, diare, pneumonia), anak-anak yang kurang / jarang makan makanan yang mengandung vitamin A. Selain bayi dan anak-anak, ibu hamil dan menyusui juga rentan terkena xeroftalmia.
Salah satu upaya untuk mencegah kekurangan vitamin A adalah dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin A, seperti nabati (karoten), hewani (retinol). Sayuran berdaun hijau (kangkung, bayam, daun pepaya, dll), buah-buahan yang berwarna orange(wortel, pepaya), susu, daging, hati, telur. Vitamin A juga dapat ditemukan di suplemen, seperti susu bubuk, kapsul vitamin A.
Menurut hasil temuan para ahli di bawah koordinasi WHO (tahun 2000) dan pertemuan-pertemuan yang dikoorinasi oleh IVACG (International Vitamin A Consultative Group), anjuran pemberian vitamin A adalah sebagai berikut :
1. Bayi 0 hingga 6 bulan adalah sebanyak 3 X 50.000IU.
2. Bayi 6 hingga 11 bulan adalah sebanyak 100.000 IU (kapsul biru).
3. Bayi 12 hingga 59 bulan adalah sebanyak 200.0000 IU (kapsul merah.
4. Ibu masa nifas adalah sebesar 400.000 IU (2X 200.0000 IU pada hari yang berbeda).
5. Ibu setelah masa nifas (ada juga kemungkinan sebagian hamil) adalah sebesar 10.000 IU/hari atau 25.000 IU/minggu.
Subscribe to:
Posts (Atom)
